welcome to my visitors :D salam kenal yah :)

hey visitors!

welCome to my bloG""
don't forget,,join this site okayy!
thank you!

Senin, 15 April 2013

Naskah drama bahasa indonesia 3 orang


“Oh Ternyata”




1. Fadhil Setiono as Budi
2. Nisrin Nazhifa as Ani
3. Yutry Rahmi as Catherine

Di sekolah Ani dan Catherine sedang mengerjakan PR B. Indonesia mengenai hal yang paling berkesan bersama orang tua.
Catherine :”Hal yang paling berkesan bersama orang tua, hm hm apa ya? Rasanya banyak banget yang berkesan selama ini. Kamu gimana, Ani?”
Ani         :”Ha? Hh entahlah.”
Catherine :”hm? Ah pena ku macet nih! Ah aku ga mau belajar ah,  mau main aja.”
Ani         :”Aha gimana kalo main ToD-an?”
Catherine :”Boleh juga.” [Budi lewat]
Budi      :”Aku ikut deh. Toh temen-temen yang lain pada sibuk sendiri di kelas ini.”
 (Budi yang kena)
Budi      :”Yah aku.. Aku pilih Dare aja deh, kan berani !”
Catherine :”Gimana kalo traktir kita makan di kantin?”
Budi      :”Yah, lagi bokek ni sumpah.”
Ani         :”Hh eh besokkan libur panjang gimana kalo kita bepetualang? Eh tapi ke mana, ya?”
Catherine :”Gimana kalo ke rumah mu yang berada dekat hutan itu loh, selama inikan Ani tinggal di kontrakan, jadi sekalian mudik gitu.”
Ani         :”Oh iya, Ide yang bagus! Naik mobilnya Budi kan!”
Budi      :”Ha? Tunggu dulu, ke hutan? [Ani & Catherine mengangguk] aku yang nyetir? [Ani & Catherine mengangguk] Semalaman? [Ani & Catherine mengangguk] aku ga ikut ya?”
Catherine :”Yah Budi.. penakut banget sih!?”
Ani         :”Yasudah dari tadi darenya ga jadi terus mending ga usah main ah. Yuk, Cat!”
Budi      :”Eh kalian nantang aku gitu. Oke besok jam berapa, kumpul di mana?”
Besoknya, Budi, Ani, dan Catherine pergi ke rumah Ani melewati hutan. Tiba-tiba mobil Budi pecah ban.
Budi      :”Hey Ani, kamu tau bener jalannya kan?
Ani         :”Ya iyalah! Eh, belok kiri Bud! Belok kanan! Nah iya kiri lagi! Oke lurus terus kali ini!”
[Mobil Budi pecah ban (efek suaranya cup aqua di injek) Budi ngeliat kebelakang]
Budi, Ani, & Catherine :”Astagfirullah!”
Catherine :”Suara apa tadi?”
Budi      :”Kacau, kaya’nya pecah ban deh!”
[Berenti, turun dari mobil]
Catherine :”Terpaksa kayanya kita jalan deh!”
                Lantas, Budi, Ani, dan Catherine berjalan ke rumah Ani sampai malam. Di tengah jalan Ani terkejut bahwa Catherine menghilang  tiba-tiba.
Budi      :”Duh, serem banget sih hutan ini.”
Ani         :”Udah, yang penting kita harus cepet sampe ke rumah bersama-sama. Ya kan Cat? Cat? Catherine? [Ani melihat ke belakang] Budi! Catherine ke mana?”
Budi      :”Astaga ayo cepat kita cari dia!”
Ani         :”Iya! Cat! Catherine! Catherine!”
Budi      :”Oi! Cat! Catherine! Catherine!”
Ani         :”Budi!  Itu Catherine kan?”
Budi      :”Iya! [Ani&Budi melihat Catherine sedang memegang pisau berlumuran darah, Budi merinding] Itu kan...”
Ani         :”Budi, ngapain dia megang pisau? Aneh deh.”
[Catherine menoleh ke belakang menyadari kalau Ani&Budi melihat dia memegang pisau, lalu membuang pisau itu dengan cemasnya]
Catherine :”Hey, Ani! Budi! Fuh  aku kira aku tersesat.”
Budi      :”Cat tadi..” [Ani memotong pembicaraan]
Ani         :”Ah, itu, kamu gimana sih bisa tersesat haduh! Yasudah ayo cepat kita pergi ke rumah ku dan jangan sampai mencar lagi oke!” [Catherine mengangguk, Budi heran]
Ani         :”Hey aku ngerasa aneh lebih baik jangan tanya dia soal yang tadi itu.”
Budi      :”hm betul juga.”
                Akhirnya, mereka sampai di rumah Ani. Dan ternyata rumahnya sangatlah sepi.
Budi      :”Kok sepi banget?”
Ani         :”Oh, orang tuaku lagi kerja ke luar kota tuh.”
Catherine :”Oh.” [sinis]
Ani         :”Nah, Budi tidur di kamar sana. Aku dan Catherine tidur di sana. Kalau kamar mandi di sebelah sana.”
Catherine :”Hh capek, ayo tidur.”
Budi      :”Oi aku tidur sendirian?”
Ani         :”Ha? Oh takut ya, kalo mau tidur di sofa aja sana, tapi aku rasa ruangan ini lebih angker di banding kamar itu loh.”
Budi      :”Ha?”
                Keesokkan harinya di pagi hari, Budi, Ani, dan Catherine kelaparan. Catherine berinisiatif untuk masak.
Ani         :”Lapeeeerr.”
Budi      :”Iya nih.”
Catherine :”Yaudah, aku masak ya?”
Budi      :”Boleh juga tuh!”
[Di meja makan Budi ngebahas PR B.Indonesia kemarin]
Budi      :”Huh, terpaksa ngebawa buku PR ini.”
Ani         :” Katanya minimal 5 lembar. Sekalian buat karya ilmiah aja.”
Budi      :”[mengangguk] heh mulai dari apa ya, oh iya dulu saat aku kecil aku dan orang tuaku pergi ke mall dan aku mengajaknya pergi ke rumah ayam, orang tua ku heran saat aku tunjuk tempatnya, rupanya KFC.” [bahagia]
Ani         :”hm”[senyum terpaksa]
Catherine :”Ini dia [membawa piring] Ah aku ambil lagi di belakang.”
Ani         :”Wah!” [langsung makan, Budi ingin mengambil sesuap juga tapi dia melihat ekspresi Ani yang aneh] Huek [Ani menggeleng ke Budi] Catherine, kamu masukin racun ya!”
Catherine :”Ha? Oh iya ya?” [sinis]
Ani         :”heh? Budi, ngerasa aneh gak?”
Budi      :”Hm” [mengangguk]
Malam harinya, di kamar Ani&Catherine berbincang soal PR B.Indonesia. Lalu, Catherine ingin buang air kecil. Di tengah jalan dia terpeleset.
Catherine :”Hh PR ini bener-bener deh. Aku bingung masa kecil ku itu kurasa banyak banget hal berkesannya sama orang tua.”
Ani         :”Terus ngapain bingung kalo gitu?”
Catherine :”Yah, gak tau harus mulai dari mana. Oh iya, aku sama orang tuaku..oh aku sama orang tuaku tamasya. Terus aku bersama orang tua ku hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Ibuku panggilkan becak, kereta tak berkuda. Ayahku hobi membelikanku es krim. Hm, orang tuaku memang baik sekali, kan Ani?”
Ani         :”Ha? Oh eya begitula.”
Catherine :”Duh, mau pipis. Aku ke toilet dulu ya?” [Ani mengangguk]
[Di jalan tak jauh dari percakapan, Catherine terpeleset karena kulit pisang.]
Catherine:”Aduuh… [perlahan Ani menghampiri dengan memegang pisau di belakangnya] Ani tolong.. [Ani menolong Catherine berdiri]
Ani         :”Cukup sampai hari ini, Catherine.”
[tatapan kosong, langsung menusuk perut Catherine]
Catherine :”Aaaaaah! [Tertusuk] Aght itu kan pisau yang kutemukan di hutan!? ap-pa yang...” *Death End*
[Ani terengah-engah, lalu Budi menyahut]
Budi      :”Ani! Catherine! Hello!”
[Ani cemas, dia menatap mayat Catherine lalu menutupinya dengan bantal yang besar, Ani mengelap tangan dan wajahnya dengan sapu tangan. Terus berlari mencari Budi]
Ani         :”Budi! Ada apa?”
Budi      :”Aku kelaparan, apakah ada makanan, maksudku yang bisa dimakan?”
Ani         :”Oh, dilemari dapur kalau tidak salah ada roti.”
Budi      :”Oke. Oh ya di mana Catherine? Tadi perasaan aku mendengar jeritannya.”
Ani       :”Ha? Jeritan? Gak ada lah, Catherine lagi tidur kok. Kurasa kamu salah denger deh, mungkin pekikan burung tadi itu, Bud.”
Budi      :”Hah? Tidur ya? Oh yaya salah denger berarti.”
[Budi pergi, Ani menatapnya pergi lalu melihat kebelakang, Ani tersenyum]
Ani         :”Hm, Catherine selamat tidur... untuk selamanya.”
                Di malam itulah, Ani mengubur mayat Catherine. Budi berinisiatif untuk mencari angin sebentar sambil memakan roti rasa vanillanya.
Budi      :”Hh, belum ngantuk nih. Cari angin ah! [di tengah jalan dia melihat Ani seperti habis menguburkan sesuatu, Budi heran] Apa yang sedang Ani lakukan? [Ani menatap Budi, tatapannya aneh. Budi cemas, dan berlari]
                Budi berlari sampai ke dalam rumah, dia heran. Budi memikirkan di mana Catherine dan apa yang dilakukan Ani. Budi menemukan buku PR nya Ani dalam keadaan remuk.
Budi      :”Apa yang sebenarnya terjadi!? Di mana Catherine? Apa yang dilakukan Ani? Tatapannya tadi aneh sekali!
[Budi cemas, melihat - lihat sekelilingnya / waspada. Budi melihat buku remuk, dilihatnya cover buku itu]
Ini kan buku PRnya Ani, mengapa bisa remuk seperti ini? [dibukanya] “Hal yang paling berkesan bersama orang tua : saat aku mengubur Ayah dan Ibu(?)”
[Budi merinding, dia merasakan ada aura aneh di belakangnya. Ani mencoba memukul Budi dengan tongkat. Tapi, Budi reflek menghindar, lalu berlari menjauhi Ani]
Ani         :”Budi...”
Budi      :”Apa yang terjadi!? Di-di mana Catherine!?”
Ani         :”Aku membunuhnya, dan selanjutnya giliranmu ya Bud?”
Budi      :”Ta-tapi mengapa!?”
Ani         :”Kau dan juga Catherine selalu membahas kehidupanmu yang bahagia bersama orang tua kalian!”
Budi      :”Ha? Apa maksudmu?”
Ani         :”Kau pasti telah membacanya kan. Dulu, setiap hari ayahku pulang sampai larut malam dan ibu, ibu selalu melampiaskan amarahnya kepada ku! Aku terus menunggu apakah ada hari di mana kami bisa bersama, bahagia. Sampai suatu hari tanpa terasa aku telah membunuh mereka! Dan kau tahu hal yang paling berkesan? Bukanlah saat aku membunuhnya, tapi saat menguburnya, saat itulah kami bisa berkumpul bersamaa!”
[Ani berlari kearah Budi, siap untuk memukulya]
Budi      :”Kau gila!”[Budi menghindar lagi, mengambil tongkatnya Ani. Lalu langsung memukulnya, Ani terjatuh] Oh tidak, apa dia mati!?”
[Budi terduduk bersalah, melihat tangannya dan menutup wajahnya, menangis. Terdiam. Selagi Budi menutup wajahnya, Ani membuka matanya, mengambil pisau kecil di sakunya dan langsung menusuk Budi]
Budi       :”Aght!” [terjatuh] *Death End*
                Di kuburan.
Ani        :”Ayah...Ibu...Catherine...Budi...maafkan aku..”
Akhirnya, kehidupan Ani bertambah tidak tenang.                                          *The End*

Walau drama kami bercerita tentang pembunuhan tapi kami mempunyai amanat yaitu
Amanat            :Jangan mudah iri dan bersabarlah.