“Oh Ternyata”
1. Fadhil Setiono as Budi
2. Nisrin Nazhifa as Ani
3. Yutry Rahmi as Catherine
Di sekolah Ani dan Catherine sedang mengerjakan PR B.
Indonesia mengenai hal yang paling berkesan bersama orang tua.
Catherine :”Hal yang paling
berkesan bersama orang tua, hm hm apa ya? Rasanya banyak banget yang berkesan
selama ini. Kamu gimana, Ani?”
Ani :”Ha? Hh entahlah.”
Catherine :”hm? Ah pena ku macet
nih! Ah aku ga mau belajar ah, mau main
aja.”
Ani :”Aha gimana kalo main ToD-an?”
Catherine :”Boleh juga.” [Budi
lewat]
Budi :”Aku ikut deh. Toh temen-temen yang lain pada sibuk sendiri di
kelas ini.”
(Budi yang kena)
Budi :”Yah aku.. Aku pilih Dare aja deh, kan berani !”
Catherine :”Gimana kalo traktir
kita makan di kantin?”
Budi :”Yah, lagi bokek ni sumpah.”
Ani :”Hh eh besokkan libur panjang gimana kalo kita bepetualang?
Eh tapi ke mana, ya?”
Catherine :”Gimana kalo ke rumah
mu yang berada dekat hutan itu loh, selama inikan Ani tinggal di kontrakan,
jadi sekalian mudik gitu.”
Ani :”Oh iya, Ide yang bagus! Naik mobilnya Budi kan!”
Budi :”Ha? Tunggu dulu, ke hutan? [Ani & Catherine mengangguk]
aku yang nyetir? [Ani & Catherine mengangguk] Semalaman? [Ani &
Catherine mengangguk] aku ga ikut ya?”
Catherine :”Yah Budi.. penakut
banget sih!?”
Ani :”Yasudah dari tadi darenya ga jadi terus mending ga usah
main ah. Yuk, Cat!”
Budi :”Eh kalian nantang aku gitu. Oke besok jam berapa, kumpul di
mana?”
Besoknya, Budi, Ani, dan Catherine pergi ke rumah Ani
melewati hutan. Tiba-tiba mobil Budi pecah ban.
Budi :”Hey Ani, kamu tau bener jalannya kan?
Ani :”Ya iyalah! Eh, belok kiri Bud! Belok kanan! Nah iya kiri
lagi! Oke lurus terus kali ini!”
[Mobil
Budi pecah ban (efek suaranya cup aqua di injek) Budi ngeliat kebelakang]
Budi, Ani, & Catherine
:”Astagfirullah!”
Catherine :”Suara apa tadi?”
Budi :”Kacau, kaya’nya pecah ban deh!”
[Berenti, turun dari mobil]
Catherine :”Terpaksa kayanya kita
jalan deh!”
Lantas, Budi, Ani, dan Catherine
berjalan ke rumah Ani sampai malam. Di tengah jalan Ani terkejut bahwa Catherine
menghilang tiba-tiba.
Budi :”Duh, serem banget sih hutan ini.”
Ani :”Udah, yang penting kita harus cepet sampe ke rumah
bersama-sama. Ya kan Cat? Cat? Catherine? [Ani melihat ke belakang] Budi!
Catherine ke mana?”
Budi :”Astaga ayo cepat kita cari dia!”
Ani :”Iya! Cat! Catherine! Catherine!”
Budi :”Oi! Cat! Catherine! Catherine!”
Ani :”Budi! Itu Catherine
kan?”
Budi :”Iya! [Ani&Budi melihat Catherine sedang memegang pisau
berlumuran darah, Budi merinding] Itu kan...”
Ani :”Budi, ngapain dia megang pisau? Aneh deh.”
[Catherine
menoleh ke belakang menyadari kalau Ani&Budi melihat dia memegang pisau,
lalu membuang pisau itu dengan cemasnya]
Catherine :”Hey, Ani! Budi! Fuh aku kira aku tersesat.”
Budi :”Cat tadi..” [Ani memotong pembicaraan]
Ani :”Ah, itu, kamu gimana sih bisa tersesat haduh! Yasudah ayo
cepat kita pergi ke rumah ku dan jangan sampai mencar lagi oke!” [Catherine
mengangguk, Budi heran]
Ani :”Hey aku ngerasa aneh lebih baik jangan tanya dia soal yang
tadi itu.”
Budi :”hm betul juga.”
Akhirnya,
mereka sampai di rumah Ani. Dan ternyata rumahnya sangatlah sepi.
Budi :”Kok sepi banget?”
Ani :”Oh, orang tuaku lagi kerja ke luar kota tuh.”
Catherine :”Oh.” [sinis]
Ani :”Nah, Budi tidur di kamar sana. Aku dan Catherine tidur di
sana. Kalau kamar mandi di sebelah sana.”
Catherine :”Hh capek, ayo tidur.”
Budi :”Oi aku tidur sendirian?”
Ani :”Ha? Oh takut ya, kalo mau tidur di sofa aja sana, tapi aku
rasa ruangan ini lebih angker di banding kamar itu loh.”
Budi :”Ha?”
Keesokkan
harinya di pagi hari, Budi, Ani, dan Catherine kelaparan. Catherine
berinisiatif untuk masak.
Ani :”Lapeeeerr.”
Budi :”Iya nih.”
Catherine :”Yaudah, aku masak ya?”
Budi :”Boleh juga tuh!”
[Di
meja makan Budi ngebahas PR B.Indonesia kemarin]
Budi :”Huh, terpaksa ngebawa buku PR ini.”
Ani :” Katanya minimal 5 lembar. Sekalian buat karya ilmiah aja.”
Budi :”[mengangguk] heh mulai dari apa ya, oh iya dulu saat
aku kecil aku dan orang tuaku pergi ke mall dan aku mengajaknya pergi ke rumah
ayam, orang tua ku heran saat aku tunjuk tempatnya, rupanya KFC.” [bahagia]
Ani :”hm”[senyum terpaksa]
Catherine :”Ini dia [membawa
piring] Ah aku ambil lagi di belakang.”
Ani :”Wah!” [langsung makan, Budi ingin mengambil sesuap juga
tapi dia melihat ekspresi Ani yang aneh] Huek [Ani menggeleng ke Budi]
Catherine, kamu masukin racun ya!”
Catherine :”Ha? Oh iya ya?” [sinis]
Ani :”heh? Budi, ngerasa aneh gak?”
Budi :”Hm” [mengangguk]
Malam harinya, di kamar Ani&Catherine berbincang
soal PR B.Indonesia. Lalu, Catherine ingin buang air kecil. Di tengah jalan dia
terpeleset.
Catherine :”Hh PR ini bener-bener
deh. Aku bingung masa kecil ku itu kurasa banyak banget hal berkesannya sama
orang tua.”
Ani :”Terus ngapain bingung kalo gitu?”
Catherine :”Yah, gak tau harus
mulai dari mana. Oh iya, aku sama orang tuaku..oh aku sama orang tuaku tamasya.
Terus aku bersama orang tua ku hendak melihat-lihat keramaian yang ada. Ibuku
panggilkan becak, kereta tak berkuda. Ayahku hobi membelikanku es krim. Hm, orang
tuaku memang baik sekali, kan Ani?”
Ani :”Ha? Oh eya begitula.”
Catherine :”Duh, mau pipis. Aku ke
toilet dulu ya?” [Ani mengangguk]
[Di
jalan tak jauh dari percakapan, Catherine terpeleset karena kulit pisang.]
Catherine:”Aduuh… [perlahan Ani
menghampiri dengan memegang pisau di belakangnya] Ani tolong.. [Ani
menolong Catherine berdiri]
Ani :”Cukup sampai hari ini, Catherine.”
[tatapan
kosong, langsung menusuk perut Catherine]
Catherine :”Aaaaaah! [Tertusuk]
Aght itu kan pisau yang kutemukan di hutan!? ap-pa yang...” *Death End*
[Ani
terengah-engah, lalu Budi menyahut]
Budi :”Ani! Catherine! Hello!”
[Ani
cemas, dia menatap mayat Catherine lalu menutupinya dengan bantal yang besar, Ani
mengelap tangan dan wajahnya dengan sapu tangan. Terus berlari mencari Budi]
Ani :”Budi! Ada apa?”
Budi :”Aku kelaparan, apakah ada makanan, maksudku yang bisa
dimakan?”
Ani :”Oh, dilemari dapur kalau tidak salah ada roti.”
Budi :”Oke. Oh ya di mana Catherine? Tadi perasaan aku mendengar
jeritannya.”
Ani :”Ha? Jeritan? Gak ada lah, Catherine lagi tidur kok. Kurasa
kamu salah denger deh, mungkin pekikan burung tadi itu, Bud.”
Budi :”Hah? Tidur ya? Oh yaya salah denger berarti.”
[Budi pergi, Ani menatapnya pergi lalu
melihat kebelakang, Ani tersenyum]
Ani :”Hm, Catherine selamat tidur... untuk selamanya.”
Di
malam itulah, Ani mengubur mayat Catherine. Budi berinisiatif untuk mencari
angin sebentar sambil memakan roti rasa vanillanya.
Budi :”Hh, belum ngantuk nih. Cari angin ah! [di tengah jalan dia
melihat Ani seperti habis menguburkan sesuatu, Budi heran] Apa yang sedang Ani
lakukan? [Ani menatap Budi, tatapannya aneh. Budi cemas, dan berlari]
Budi
berlari sampai ke dalam rumah, dia heran. Budi memikirkan di mana Catherine dan
apa yang dilakukan Ani. Budi menemukan buku PR nya Ani dalam keadaan remuk.
Budi :”Apa yang sebenarnya terjadi!? Di mana Catherine? Apa yang
dilakukan Ani? Tatapannya tadi aneh sekali!
[Budi
cemas, melihat - lihat sekelilingnya / waspada. Budi melihat buku remuk,
dilihatnya cover buku itu]
Ini kan buku PRnya Ani, mengapa bisa remuk seperti ini? [dibukanya]
“Hal yang paling berkesan bersama orang tua : saat aku mengubur Ayah dan
Ibu(?)”
[Budi
merinding, dia merasakan ada aura aneh di belakangnya. Ani mencoba memukul Budi
dengan tongkat. Tapi, Budi reflek menghindar, lalu berlari menjauhi Ani]
Ani :”Budi...”
Budi :”Apa yang terjadi!? Di-di mana Catherine!?”
Ani :”Aku membunuhnya, dan selanjutnya giliranmu ya Bud?”
Budi :”Ta-tapi mengapa!?”
Ani :”Kau dan juga Catherine selalu membahas kehidupanmu yang
bahagia bersama orang tua kalian!”
Budi :”Ha? Apa maksudmu?”
Ani :”Kau pasti telah membacanya kan. Dulu, setiap hari ayahku
pulang sampai larut malam dan ibu, ibu selalu melampiaskan amarahnya kepada ku!
Aku terus menunggu apakah ada hari di mana kami bisa bersama, bahagia. Sampai
suatu hari tanpa terasa aku telah membunuh mereka! Dan kau tahu hal yang paling
berkesan? Bukanlah saat aku membunuhnya, tapi saat menguburnya, saat itulah
kami bisa berkumpul bersamaa!”
[Ani
berlari kearah Budi, siap untuk memukulya]
Budi :”Kau gila!”[Budi menghindar lagi, mengambil tongkatnya Ani.
Lalu langsung memukulnya, Ani terjatuh] Oh tidak, apa dia mati!?”
[Budi
terduduk bersalah, melihat tangannya dan menutup wajahnya, menangis. Terdiam.
Selagi Budi menutup wajahnya, Ani membuka matanya, mengambil pisau kecil di
sakunya dan langsung menusuk Budi]
Budi :”Aght!”
[terjatuh] *Death End*
Di kuburan.
Ani :”Ayah...Ibu...Catherine...Budi...maafkan
aku..”
Akhirnya, kehidupan Ani bertambah tidak tenang. *The
End*
Walau
drama kami bercerita tentang pembunuhan tapi kami mempunyai amanat yaitu
Amanat
:Jangan mudah iri dan bersabarlah.

